Total Tayangan Laman

Minggu, 17 Oktober 2010

Stimulasi Kinestetik Bagi Pengembangan Keterampilan Motorik Batita ( Usia 1-3 Tahun )

 Oleh : Yaswinda, M.Pd.
 
 Bunda, anak-anak yang berusia 1-3 tahun membutuhkan stimulasi bagi pengembangan keterampilan motorik mereka. Apa ya, yang bisa Bunda bantu agar keterampilan motorik si buah hati dapat berkembang dengan baik ?
               Hal-hal berikut dapat Bunda coba.  Lakukan saat Bunda lagi di rumah misalnya hari sabtu dan minggu ( bagi Bunda pekerja ) atau  setiap hari bagi Bunda yang mempunyai banyak waktu bagi si buah hati.  Lebih baik lagi jika Bunda dapat membuat jadwal bermain bagi si buah hati sehingga perkembagan keterampilan motoriknya dapat terpantau.
Berikut permainanan yang dapat dilakukan anak mulai usia 12 bulan :
1.       Menggapai benda yang bergerak ( tapi benda dalam keadaan terikat) serta permainan yang melibatkan indera.
2.       Kendaraan mainan, mainan tarik, Bermain dengan teman-teman di lingkungan rumah
3.       Menggelindingkan bola kecil, menendang bola, menghentikan benda, melempar, dan menangkap benda
4.       Meremas clay dan memantulkan benda.
5.        Masuk terowongan dan main dengan peralatan rumah tangga
6.       Diberikan krayon besar agar mereka bisa belajar menggambar

Pada anak mulai usia  2 tahun  dapat diberikan:
1.        Mainan dorong tarik, memungut, dan mengumpulkan benda, ,
2.         Bermain perosotan sederhana ,  menarik atau mendorong gerobak.
3.        Bermain bola ( mengggelindingkan dan melempar) 
4.        bermaian ayunan
5.        Bermaian air dan material pasir
6.        Permainan balok,  melukis dan bermain clay. ( Pada usia ini anak sudah mulai dapat membuat betuk dari clay)
7.        Menggunting dan melem kertas
8.        Mengunakan kertas origami, bermain puzzle sederhana yang terdiri dari 4-5 kepingan.
Permaian –permaian yang telah tetera di ai atas sangat mudah didapat dan murah , Jadi tunggu apa lagi, lakukan stimulasi segera bagi buah hati Bunda!
Jika ada kesulitan, kita dapat diskusikan bersama.  Selamat mencoba !!!

Sabtu, 16 Oktober 2010

(lanjutan) PENTINGNYA PENGEMBANGAN KETERAMPILAN MOTORIK HALUS ANAK USIA BATITA ( 1- 3 TAHUN)

oleh : Yaswinda

Penelitian yang dilakukan Hopkins and Westra pada tahun 1990 pada  sejumlah bayi usia 10 bulan selam 3 bulan  di 4 negara yaitu Amerika Serikat, Kung (Africa), Jamaica, dan Inggris dengan mengadakan motor training pada bayi yang sedang belajar berjalan. Sebagian anak diberikan bimbingan/ latihan, sedangkan yang lain dibiarkan.  Hasil penelitian menunjukkan anak yang diberikan bimbingan dapat berjalan 2-3  bulan lebih awal dibandingkan anak tanpa stimulasi.   Mereka menyimpulkan bahwa para orang tua dapat menolong bayi mereka untuk melakukan spesifik keterampilan motorik lebih cepat dan menunjukkan pentingnya pengalaman untuk perkembangan motorik.   Anak-anak memperoleh keuntungan jika keterampilan tersebut diajarkan oleh orang tua mereka.  Studi Kagan dan Klein pada tahu 1973 menunjukkan bahwa pemberian pengalaman lebih awal dapat meningkatkan perkembangan keterampilan motorik[1].
Penelitian yang dilakukan oleh Dennis pada tahun 1960 menunjukkan adanya keterlambatan redartasi keterampilan motorik anak (Infants) yang tidak mengikuti latihan/ stimulasi fisik.  Kemudian penelitian dilanjutkan oleh Dennis dan Sayegh pada tahun 1965 menyimpulkan bahwa dengan memberikan stimulasi lebih, para bayi dapat meningkatkan keterampilan motorik mereka[2].    Penelitian yang diadakan Blakemore di Amerika Serikat pada tahun 2005 mengungkapkan bahwa pengalaman yang dialami anak  (antara usia 0 sampai 3 tahun) dapat menunjukkan apakah anak akan menjadi warganegara yang baik atau bukan, seorang yang fokus atau pelanggar disiplin, penuh perhatian atau mengacuhkan orangtuanya[3].  
Kesimpulan 
dari pendapat para ahli dan dari hasil penelitian yang telah dilakukan, sangat penting dilakukan pengembangan keterampilan motorik halus anak usia 1-3 tahun.  Banyak cara yang dapat dilakukan. Caranya dengan memberikanstimulasi yang tepat sesuai dengan tingkat perkembangan dan umur anak.


[1] Thomas J. Berndt.  Op.cit.,, p.183- 184.
[2] Ross Vanta,Marshall M.Hait,Scott Amiller, op.cit.,  p. 187.
[3] Sue Robson.  Developing Thinking & Understanding Young Children (New York : MiltonPark Abingdon, 2006), p. 59.
www.shmily-computer.blogspot.com

SAINS ANAK

PERCOBAAAN TELUR  BERDIRI

OLEH:
YASWINDA

Adek-adek, pernah lihat telur berdiri sendiri tanpa ditopang? Tahu nggak bagaimana  caranya agar kita bisa membuat telur bisa berdiri tanpa disangga apapun. Ingin mencoba? Yuk lakukan percobaan ini !
A.   Bahan dan Alat yang  dibutuhkan
1.     telur ayam
2.     garam atau gula pasir
3.     sendok kecil dan tisu
4.     meja
B.   Yang Kita Lakukan!
1.     Telur dibuat berdiri dengan disangga garam atau gula seperti pada gambar disamping,
2.     Singkirkan garam secara perlahan dengan menggunakan sendok kecil dan tisu sampai menyisakan sedikit garam.
3.     tiup sis garam sehingga semua garam tidak lagi menyangga telut
4.     lihat! Telur dapat berdiri tanpa disangga

 SAlam Sains

PENTINGNYA PENGEMBANGAN KETERAMPILAN MOTORIK HALUS ANAK USIA BATITA ( 1- 3 TAHUN)

OLEH:
YASWINDA
Perkembangan motorik halus pada bayi dan anak usia dini merupakan suatu hal yang sangat penting bagi perkembangan anak.  Anak membutuhkan belajar menggunakan tangan dengan baik agar dapat menggerakkan mainan dan untuk keterampilan hidup seperti makan  dan memakai pakaian sendiri.  Mereka belajar mengkoordinasikan mata dan gerakkan tangan sehingga dapat menggunakan bermacam alat permainan [1].
Lilis Suryani dalam Jurnal Ilmiah Visi menyadari arti penting pendidikan anak usia dini haruslah dilandasi dengan kesadaran bahwa anak memerlukan konstribusi positif dari orang dewasa agar dapat memberikan stimulasi yang tepat untuk tumbuh dan berkembang[2]Orang tua dan orang dewasa di sekitar anak harus mengamati tingkat perkembangan anak dan merencanakan berbagai kegiatan yang bisa menstimulasinya.  Pemberian stimulasi untuk mengembangkan kemampuan motorik merupakan hal yang penting[3]
Barangkali tidak banyak yang mengetahui bahwa kemampuan fisik anak Indonesia menurut riset Play and Physical Quotien (kemampuan fisik dan bermain) menempati urutan terendah dibandingkan dengan Thailand, Vietnam, dan Jepang[4]. Dalam hal sistem pendidikan negara kita, menyiapkan seluruh siswa untuk menjadi ‘ilmuwan’ , sehingga seluruh mata pelajaran diajarkan sesulit mungkin dan berorentasi pada kognitif,  yang hanya dapt diikuti oleh 10 sampai 15 persen siswa terpandai saja. Berbeda dengan Jepang yang menyiapkan 50 persen siswanya menjadi tenaga kerja yang handal untuk membangun perekonomian negaranya karena kualitas produksi barang dan jasa sangat tergantung pada kecerdasan motorik[5].
Anak-anak di Jepang menunjukkan kemampuan motorik yang lebih baik karena diberikan kesempatan bermain yang lebih dengan disediakannya sarana bermain seperti ban-ban yang disusun di rumput,  gunung-gunungan untuk dipanjat, seluncuran dengan berbagai ukuran, tambang yang dijalin di kotak-kotak dan lain-lain.  Bandingkan dengan anak-anak Jakarta yang yang tak jarang dibawa oleh orang tuanya untuk menemani belanja atau sekedar jalan-jalan ke mall akibat berkurangnya lahan bermain di lingkungan rumah.
Bagi anak usia batita, berbagai jenis olahraga perlu ditawarkan dan diberi kesempatan untuk mencobanya. Gerak-gerakkkan olah tubuh yang melibatkan gerakkan otot-otot sangat bermanfaat membantu pertumbuhan dan perkembangan fisik anak[6].   Stimulasi kinestetik (olah tubuh)  sangat bermanfat terutama untuk menumbuh-kembangkan semua potensi kecerdasan anak, oleh karena respon yang ditunjukkan anak merupakan gerakkan otot-otot tubuh sebagai akibat dari adanya perintah dari sel saraf pusat ( otak).  Tidak ada respon gerakkan yang  tidak melalui perintah dari otak.  Oleh sebab itu, pemberian stimulasi kinestetik yang diberikan pada anak akan banyak melibatkan gerakkan otot-otot tubuh, maka akan semakin banyak pula sel-sel otak yang terstimulasi dan dengan demikian semua potensi kecerdasan yang berada di seluruh lapisan otak akan tumbuh dan berkembang[7]
Lingkungan memiliki efek kuat pada perkembangan otak anak.   Lingkungan tidak saja menambah jumlah sel otak yang aktif, akan tetapi menambah jumlah hubungan antara sel-sel otak.  Kemampuan otak untuk memenuhi dan mengatur fungsi dasar organ yang meliputi : melihat, merasa, meraba, mendengar, bergerak,  dan pengaturan fungsi organ tubuh manusia yang berkembang melalui stimulasi[8]Penelitian menunjukkan bahwa 50% perkembangan otak anak terjadi sebelum berusia 4 tahun.  Stimulasi yang diberikan pada anak usia dini sangat penting diberikan karena akan mempengaruhi laju pertumbuhan dan perkembangan anak serta sikap dan perilaku sepanjang rentang kehidupannya.  Anak-anak yang tidak mendapat lingkungan baik untuk merangsang pertumbuhan otak, misalnya jarang disentuh, jarang diajak bermain, jarang diajak berkomunikasi, maka otaknya akan lebih kecil 20-30 % dari ukuran normal seusianya.[9]




[1] http//www tsbui.du/out reach/see hear/ spring/ fine motor htm p 1
[2] Lilis Suryani.  Analisis permasalahan pendidikan anak usia dini dalam masyarakat Indonesia.  Jurnal Ilmiah Visi. Vol 2 no 1 .2007.p 12
[3] Endah, http://parentingislami.wordspress.com
[4]  Lukman Sriamin .  Indonesia Urutan terendah dalam riset kemampuan fisik dan bermain anak.. Kompas 30 Juni 2006
[5] Rusydi Hikmawan. Pendidikan Berkarakter adalah Solusi.http: // pelajar –islamor.id p 1-3
[6] Mengolah Gerak ,Mengasah Kecerdasan (Lampung Post , Minggu 20 Maret 2005)
[7]  Bambang Sujiono, “Stimulasi Kinestetik yang mengoptimalkan aspek kcerdasan anak “ makalah,Jakarta, p2
[8] Airiza Ahmad. Suatu makalah dalam Kuliah Umum PPS UNJ Prodi PAUD S2 dan S3. 2006
[9] Modul pembuatan dan penggunaan APE anak usia 3-6 tahun ( Jakarta: Depatremen pendidikan Nasional,2007)p 1